Wednesday, December 28, 2011

Lelaki Berbalaklava, Perempuan Arsitek, dan Jengkol Tumis

MUSIM dingin tengah malam perdana 1994 jadi saksi bisu didentangkannya lonceng kematian bagi petani miskin di Meksiko. Sejak detik itu, pemerintah mereka membuka jalan bagi kekuatan asing dengan memberlakukan North American Free Trade Agreement (NAFTA) antara Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Gandum, kedelai, kacang akan tersaji di meja-meja makan dengan rasa asing. Mesin-mesin raksasa investor asing akan menyaingi alat-alat pertanian sederhana petani yang terus-menerus mendapat penekanan subsidi.


Selang dua jam kemudian, sekitar tiga ribu petani ber-dress code baju coklat tua dan balaklava, melumeri jalanan sambil membawa parang dan senjata api. Mereka yang berasal dari Indian Maya kampung dengan aneka etnis dan agama mengejutkan Chiapas dengan aksi pendudukan tujuh kotapraja di provinsi yang terletak di tapal batas utara Meksiko itu. Gerakan ini bernama Ejército Zapatista de Liberación Nacional (EZLN).


Basta! Cukup! mereka lontarkan ke pemerintah Meksiko atas opresi kekerasan struktur yang dialami selama 500 tahun dan 40 tahun masa 'pembangunan'. Ekspresi politis ini ditujukkan bukan karena kurangnya 'pembangunan', malah sebaliknya. Pemerintah dianggap termakan retorika tentang pertumbuhan ekonomi Meksiko dan janji kesejahteraan dari International Monetary Fund serta Bank Dunia. Tapi EZLN berani turun ke jalanan memertanyakan 'kebenaran' semua itu. Selain itu, mereka juga menyuarakan berbagai harapan pula pilihan terhadap 'art of living and art of dying' mereka sendiri.


Aksi gerakan Zapatista di kota-kota utama itu mampu menyihir publik. Tokoh radikal Subcomandante Marcos, pemimpin Zapatista, menggunakan medium internet untuk menyebarluaskan informasi pendudukan mereka ke layar monitor para pejabat dan jurnalis, hingga ke tingkat internasional. Dua tahun kemudian, Pemerintah Meksiko akhirnya melambai-lambaikan bendera putih tanda perdamaian kepada kekuatan gerakan sosial ini.


Satu April 1995, sebuah surat kabar di Perancis Le Monde menerbitkan kembali sebuah surat dari Marcos. Ia berbicara tentang globalisasi, kemiskinan, kematian, perempuan, dan sebagainya. Lelaki yang hidup dari latar keluarga pembaca karya sastra itu membuat surat protes tajamnya mirip sebuah prosa menawan, seperti:


Lies, the universal currency

Lies have become the universal currency, and, in our country, the dream of happiness and prosperity of a few have been woven out of the nightmares of almost everyone else.


Di Indonesia sendiri, komunike-komunike EZLN dan tulisan-tulisan Marcos telah diterjemahkan oleh Ronny Agustinus dan diterbitkan ke dalam tiga buku, salah satunya berjudul Bayang Tak Berwajah.


LELAKI bermata sipit, berkulit putih, dan berambut gimbal menggotong Bayang Tak Berwajah di dalam tas ranselnya. Namanya Panjie, seorang peranakan Cina-Makassar. Ia sedang menyusuri sebuah gang di Jalan Bung, Makassar, suatu sore di bulan Juli 2011. Ia hendak menemui kawan perempuan baru yang ia kenal dari sebuah jejaring sosial dunia virtual.


Sri Rezkhi, nama perempuan itu. Juni tahun ini Rie, demikian ia kerap disapa, menamatkan studinya di Jurusan Arsitektur Universitas Hasanuddin. Ia pelahap buku-buku Y.B. Mangunwijaya—peraih Aga Khan Award for Architecture 1992 atas desain pemukiman di Kali Code, Yogyakarta—yang pertama kali ia kenali lewat tulisannya tentang arsitektur dan spiritualitas.


Petang itu, Marcos yang jauh-jauh datang dari Meksiko diantar oleh Panji ke pondokan Rie.


Membaca komunike-komunike EZLN dan tulisan-tulisan Marcos, Rie merasa disuguhkan sebuah 'tamparan' terhadap praktek pembangunan yang tak jarang melibatkan kaumnya: arsitek. Bank Dunia punya proyek-proyek yang libatkan tenaga arsitek untuk pembangunan, termasuk di desa. Salah satunya sedang digarap oleh Rie dan rekan-rekan arsiteknya di sebuah hamlet di Kabupaten Bone.


Tapi Rie tak berhasil menyelesaikan buku berjumlah 905 halaman itu. Panjie kalah taruhan bola, Ramadan kemarin. Ia harus pasrah buku kesayangannya—yang dijadikannya sebagai barang taruhan—itu berpindah kepemilikan.


JENGKOL tumis itu akhirnya dikunyah Rie, setelah sempat menimbang-nimbang efeknya. “Rasanya enak, seperti kacang,” kata Rie. Saya sendiri memilih untuk tidak menyentuhnya. “Kolesterolnya tinggi,” saya beralasan.


Puisi menjadi benang merah antara saya dan Rie. Kami bertemu dalam sebuah proyek buku antologi puisi independen tentang kondisi sosial ekonomi politik di sekitar kami, bersama 9 perempuan yang lain. Saya yang pernah membaca puisi-puisinya, biasa menemukan kritik arsitektur pembangunan dituangkannya ke dalam medium para pujangga ini. Jengkol itu adalah salah satu pilihan menu jamuan malam kami di rumah seorang kawan se-tim, 13 Desember lalu.


Di salah satu kesempatan malam itu, saya menanyakan tentang rencananya ke Bone yang sempat ia cerita pekan sebelumnya. “Rencana Jumat ini ke Bone hingga Minggu untuk survey lokasi,” jawabnya.


Bersama beberapa rekannya, Rie mendapat proyek hibah dari Bank Dunia baru-baru ini. Proyek itu rencananya dieksekusi di Desa Labempa. “Bank Dunia menetapkan hibah yang mereka beri untuk merenovasi rumah-rumah penduduk di sana yang dinilai kumuh dalam tanda kutip,” ungkap Rie.


Rie memendam ragu akan efektivitas sasaran pembangunan Bank Dunia. Marcos merasuki pikirannya. Bank Dunia dinilainya seperti ahli nujum amatiran. Tanpa persentuhan intens terlebih dahulu, lembaga ini langsung memvonis bahwa kondisi rumah penduduk adalah masalah di desa itu.


Setelah membaca tulisan-tulisan Marcos, Rie sebagai seorang arsitek tak hanya ingin jadi pekerja mekanis saja. Bukan sekadar praktisi. Kemampuan teknis yang ia miliki ingin disalurkan tidak dengan perencanaan pembangunan yang begitu instan. Prinsipnya senada dengan prinsip penulis The White Man's Burden dan pendiri Aid Watch, William Easterly: The right plan is to have no plan. Tim mereka pun masih membicarakan kemungkinan pilihan ini.


“Jangan sampai setelah rumah mereka kami perbaiki, mereka malah kelaparan,” ujar Rie.


Dewi, tuan rumah kami malam itu, menyeletuk, “Jelas penduduk mau-mau saja jika rumahnya diperbaiki.”


Persoalannya, menurut Dewi, kadang kita menganggap sesuatu sebagai masalah adalah juga masalah bagi orang lain. Padahal, dengan kondisi rumah 'kumuh' seperti itu, sejak dulu kehidupan mereka ternyata baik-baik saja. Kemudian orang-orang proyek datang bak 'pahlawan kesiangan'.


“Ada sebuah desa yang masyarakatnya dulu mandi tak memakai sabun. Lantas ketika orang-orang kota datang dan memperkenalkan sabun, mereka akhirnya memakai sabun. Perubahan gaya hidup ini memunculkan kebutuhan hidup baru. Padahal dulu, ketika mereka mandi tanpa memakai sabun, masyarakat itu toh sehat-sehat saja,” tuturnya.


Tuturan Dewi mengingatkan saya saat tinggal di salah satu rumah di Jerowaru, Lombok Timur. Penghuni rumah itu gunakan sabut kelapa untuk membersihkan piring. Kebiasaan saya di kota adalah memakai spons buatan pabrik untuk cuci piring. Waktu itu, saya tak berpikir bahwa memperkenalkan spons—yang selama ini telah terpenuhi fungsinya oleh sabut kelapa--ke dalam rumah itu bisa mengubah kebiasaan dan ciptakan kebutuhan baru (lebih tepatnya 'kebutuhan palsu'). Bedanya, sabut kelapa bisa didapatkan secara gratis dari alam sedangkan spons mesti ditebus pakai uang di warung.


Dewi yang mengambil program master pada studi community development, lantas mengurai pengalamannya bekerja di Lombok Tengah beberapa tahun lalu. Menurutnya, ada tiga pendekatan yang biasa dipakai sebelum memulai pembangunan yaitu pendekatan kebutuhan, masalah, dan potensi.


“Kami memilih pendekatan potensi saat itu,” ungkap Dewi.


Mendengar hal ini, Rie teringat usaha salah seorang seniornya yang berjuang menerapkan arsitektur kerakyatan. Dalam konsep pembangunan fisik berbasis arsitektur kerakyatan, masyarakat diajak menganalisa potensi yang mereka miliki. Setelah analisa selesai, rakyat akan membangun menggunakan potensi milik mereka. Konsep pembangunan ini menghindarkan ketergantungan masyarakat dari bantuan asing.


Percakapan masih berlangsung setelah yang tertinggal hanya tulang-belulang ayam di pinggir piring kami. Tapi tak lama kemudian, kami berhenti setelah tangis bayi Dewi pecah. Rie dan saya pamit pulang. Kami menerobos suasana jalanan yang temaram di kompleks perumahan Telkomas.


Keesokan hari, saya menemukan Rie masih dirasuki Marcos.


Saturday, November 5, 2011

Pesan Damai dari Henge'do

“KALAU di Kupang, jangan mengaku orang Makassar”. Pësan singkat itu dikirim seorang kawan sehari sebelum saya ke Kupang, 25 September lalu. Saya menduga, pesan itu dilatari berita pembunuhan empat warga di Makassar, 14 September kemarin, di salah satu pusat perbelanjaan.


Saya membacanya, tanpa histeria.


ASAP rokok seorang lelaki segera menampar hidung begitu saya masuk ke taksinya. Selepas dari gerbang bandara El Tari, ia bertanya saya datang dari daerah mana.

“Makassar,” jawabku singkat.


Mendengar jawabanku, ia bertanya lagi apakah situasi di Makassar aman-aman saja. Seketika, saya teringat pesan singkat kawanku itu. Tapi saya memilih tetap tenang dan menjawab bahwa setidaknya di daerah sekitar tempat tinggalku aman.


Ia lanjut bercerita tentang pembunuhan keempat warga itu. Lantas, entah mendapat sinyal ketakutan dari mana, pengemudi itu tiba-tiba memberi pengumuman dalam taksinya yang gelap dan berbau asap rokok: Kupang aman-aman saja!


Saya sendiri tak menganggap pembunuhan itu harus mengait-ngaitkan sentimen etnis. Juga tak sepakat dengan langkah Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya, yang meminta maaf segala, seakan-akan ingin menegaskan bahwa ini memang persoalan etnis. Saya dan pengemudi taksi ini punya rona relasi tersendiri, tak ada kaitan dengan tindak kriminal itu.


Saya mengalihkan topik pembicaraan ke masalah cuaca, musim, dan perjalanan hidupnya. Ia bercerita panjang lebar. Saya mendengar, melempar pandangan ke luar taksi, dan bergumam: “Ah, begitu banyak misteri di luar sana.”


Taksi kemudian berhenti di depan salah satu penginapan yang terletak di kawasan Oebobo. Dua panitia "Pelatihan Jurnalisme Warga" yang menyambut saya di bandara, tiba lebih dulu.


“Obrigado,” ucapku ke pengemudi itu.


Mendengar saya mengucapkan kata 'obrigado', seorang panitia menegur. "Jika ingin ucapkan "terima kasih" di Kupang, pakai "terima kasih" saja," katanya.


Saya jadi malu karena tak pernah sebelumnya mengecek pada konteks daerah mana kata ini digunakan. Belakangan, saya baru tahu kalau kata ini berasal dari bahasa Tetun yang mendapat pengaruh Portugis. Di Kupang, kata yang berarti "terima kasih" ini sesekali digunakan oleh warga yang pernah bersentuhan dengan warga Timor Leste sejak negeri ini belum independen.


Usai menyerahkan uang kembalian ongkos mengantarku, pengemudi taksi itu segera memegang kemudi dan menginjak pedal gas. Adi, pengemudi itu, berlalu. Saya lupa menanyakan nama lengkapnya.


TIMOR Leste memisahkan diri dari Indonesia Agustus 1999 silam. Langkah ini melahirkan sekitar 288.000 manusia perbatasan.

Sebelum terbang ke Kupang, saya membaca beberapa berita tentang manusia tapal batas di NTT. Di media online, saya dapatkan beberapa berita konflik antara pengungsi dengan warga lokal. Konflik juga terjadi di kalangan warga lokal dan eks-pengungsi, seperti saling lempar batu yang terjadi di Oebelo, Kupang Tengah, 20 Desember 2009 lalu. Kejadian yang dimuat oleh detikNews (detiknews.com) itu menyebabkan dua orang kritis dan belasan luka-luka.


Saling lempar batu itu berawal dari konflik dua orang warga. Ketika terjadi eskalasi konflik, media langsung memetakannya sebagai konflik antara 'eks pengungsi' dan 'warga lokal'.


Di kolom komentar sebuah blog yang me-relay berita itu, tiga warga mengecam para pengungsi. Mereka mengatakan bahwa para pengungsi seharusnya diusir saja karena mereka adalah pengkhianat, dicap brutal, dan lemah dari segi sumber daya manusia. Nasionalisme yang sanggup mencecerkan darah manusia terbaca kental di situ.


Tapi, sebegitu mencekamkah suasana hubungan mereka?


TAMPILAN foto pakaian-pakaian dalam yang dijemur di kaktus memicu tawa peserta pelatihan. Foto itu dikemas dalam tayangan liputan kolektif warga berjudul "Berkibarlah Jemuranku..." di Panyingkul! (www.panyingkul.com), 9 Agustus 2007.


Dalam liputan yang sama, seorang warga berbagi kisah jemuran dari Yerussalem. Di tengah konflik yang masih berkecamuk di Tepi Barat dan Jalur Gaza, Frank Holt--salah seorang keluarga dari pewarta warga Sammy Lee--mengabadikan tali jemuran yang dibagi bersama antar warga biasa dari dua identitas yang saling berebut wilayah kekuasaan.


Kisah ini jadi bahan refleksi bagi peserta untuk melihat kembali relasi mereka dengan warga pengungsi. Tak sedikit peserta yang mengaku punya teman pengungsi dan hubungan mereka baik-baik saja. Jauh dari kekeruhan peristiwa-peristiwa yang diangkat oleh media umum.

Seperti Meli Hadjo yang berasal dari suku Sabu. Ia mendampingi anak-anak pengungsi di daerah Noelbaki, sekira 45 menit dari kota Kupang, arah Timur.


"Biasanya orang-orang bilang anak-anak pengungsi kasar-kasar dan susah dengar orang. Memang iya, karena setiap hari mereka kena pukul dari orang tua atau kakak di rumah kalau melakukan kesalahan. Saat pendampingan, mereka juga tidak segan-segan untuk membentak dan menjitak teman-teman mereka, sengaja ataupun tidak, di depan kami. Mereka nakal dan liar, tapi mereka jujur, polos, sederhana," tutur Meli yang telah melakukan pendampingan sejak Mei lalu.


Jan Windy, anggota Komunitas Akar Rumput (KoAR) yang juga warga lokal Kupang, mengatakan bahwa di komunitasnya sendiri ada seorang eks-pengungsi bernama Edy Nahak. Pasca jajak pendapat, Edy dan keluarganya ikut mengungsi. Status 'eks-pengungsi' dengan cepat diperoleh Edy karena ayahnya adalah seorang pegawai negeri. Menurut Jan, Edy orang yang pandai bergaul. Dengan begitu, ia mudah akrab dengan kawan-kawan di KoAR. Edy pun mampu diajak bekerja sama dengan baik. Saat ini Edy mengorganisir para pemuda di wilayah Penfui, Kupang Tengah.


Seorang pengungsi di kamp pengungsian Noelbaki, Theofilus Guteres, berkisah pula ke saya. Guteres yang rindu balik ke kampung halamannya Dili, Timor Leste, mengaku berhubungan baik dengan teman-temannya dari warga lokal. Bersama mereka, ia biasa bermain bola atau belajar mengoperasikan komputer. Bahkan kini, ada unsur romansa dalam relasinya dengan seorang gadis lokal.


SELEMBAR scarf berwarna hitam diberikan kepadaku. "Itu dari Sabu," kata Meli, memberi info mengenai scarf yang ia beri itu. Asal scarf atau berbagai jenis produk tenun ikat yang lain dapat dikenali dari motifnya. Mince, pedagang kain tenun ikat di sekitar penginapanku memberi tahu, bahwa orang-orang Sabu memilih motif flora.


"Itu karena tradisi nenek moyang mereka adalah bertani," jelas Mince.


Tak hanya motif tenun Sabu yang diperkenalkan kepada saya. Sebelum berangkat ke bandara, Meli memberi ciuman ala Sabunis. Ciuman ini ternyata tak hanya dilakukan oleh Sabunis tapi sudah menjadi semacam tradisi berbagai etnis di Kupang yang disuguhkan kepada pengunjung. Ciuman ini juga mirip ciuman tradisi yang dilakukan oleh orang Maori di New Zealand dan Inuit di Alaska.


Sabunis menamainya Henge'do. Caranya dengan menggosok-gosokkan hidung satu sama lain. Henge'do menyimbolkan perdamaian. Konon, orang akan terkena kutukan dan berumur pendek jika mengungkit-ungkit lagi masalah yang telah didamaikan dengan Henge'do.


Setiba di bandara El Tari, saya bersalaman dengan beberapa peserta yang mengantar. Salah satunya Weltji Yastri Doek, dari Rote. Setelah bersalaman, ia langsung meraih hidungku.


Di tengah kebencian karena pembayangan terbatas terus disebar di sana-sini, dalam sekejap, sebuah pesan damai ia selipkan padaku dengan Henge'do.

Thursday, April 14, 2011

Anomali

Menyaksikan cara cuaca memperlakukan hati.



Malimongan, 09.April.11

Kabar Koran

: Redam lantas biak cemas

dalam sunyi yang retak.



02.02.11

Barisbaris Pengisi Pagi

(i)

Mengapa horizon harus menyembunyikan

setengah lengkung pelangi?


(ii)

Adakah hymne kau lantun untukku?

Pada tanah yang ditelan jarak.


(iii)

Masih bisakah aku membaca air di matamu?

Untuk kutulis dalam puisi-puisiku.


Tersisakah pagi kita pada esok?



Malimongan, 09.Januari.11


Wednesday, April 13, 2011

Anomali

Saat takdir kita ikatkan pada musimmusim,

aku tahu sesekali di antara kita menjelma angin.

Mengajak pohonpohon lain berdansa

dengan iringan musik atau tepukan tangan.


Saat takdir kita ikatkan pada musimmusim,

aku tahu sesekali hati kita bermain muslihat.

Tawarkan rasa sungguh mawar

cipta debar yang melembabkan.


Bukankah perasaan itu indah, sayang?



Makassar, 11 januari 2010

Reputasi Aylito Binayo


Budaya Konso telah berkuasa.

Jauh sebelum tubuhmu muncul

dari rekah mawar hitam.

Ia telah menikahi zaman

dan sangat enggan bercerai.


Pada gersang lanskap Foro

air selangka berlian.

Di sini, hidupmu berarti berlari setiap hari.

Sejak tanah masih disinari bintang

hingga siang mulai membakar kulit.

Susuri lereng berbatu, sesekali curam.

Tuju sungai yang akan mengisi

jerikenjerikan di letih punggungmu.


Kepulanganmu akan disambut lelaki Foro.

Bersiap-siap sematkan reputasi

yang mereka rancang untukmu:


Perempuan cerdas dan rajin jika sanggup berlari naik turun lereng mengambil air.


Aylito Binayo, dapatkah kau membayangkan

suatu saat air hanya berjarak tiga menit saja darimu?

Dengan begitu, kau bisa berkuasa atas waktu

menyusun strategi untuk impianmu sendiri

--sementara para lelaki akan sibuk

merundingkan reputasi baru untukmu.


Selong, 15.Oktober.10

Saya Berada di Rumah Venetia di Kyoto Setiap Selasa

Segelintir teman menyarankan untuk membatasi waktu menonton tayangan televisi. Selain menonton sebenarnya adalah laku konsumsi--yang berarti memosisikan kita sebagai pelaku pasif, tak jarang menu yang disajikan serupa junk food yang tak baik untuk kesehatan.


Saya setuju dengan mereka. Batasan pun saya buat: hanya menonton beberapa berita -bukan kriminal- dan dua serial di televisi. Serial pertama 'Gentle Journeys' --saya tak akan membahas program ini lebih lanjut--dan kedua 'At Home with Venetia in Kyoto'.


'At Home with Venetia in Kyoto' diputar setiap selasa dan rabu di NHK. Program bilingual english-nihon go ini mengikuti langkah sehari seorang perempuan berkebangsaan Inggris, Venetia Stanley, yang memilih menetap di Jepang. Sekitar tiga belas tahun silam ia dan suaminya, Tadashi Kajiyama--seorang fotografer, mendirikan rumah di lembah pegunungan daerah Ohara, Kyoto.


Menjalin Relasi dalam Kehidupan tanpa Jejaring Sosial Internet


Sebelum menikah, Yazid Sururi--pendamping hidup saya, mengajak tinggal di desa. Saya mengiyakan dengan sebuah syarat: harus ada koneksi internet! Namun cita-cita hidup di desa dengan tetap terkoneksi internet perlahan luruh setelah melihat bagaimana Venetia menjalani hidup sehari-harinya di Ohara. Gaya hidup Venetia seperti yang diperkenalkan oleh NHK sebagai 'eco-friendly and people-friendly' tak begitu intens dalam gelut hiruk-pikuk interaksi manusia di dunia maya—seperti di social network system (SNS). Asumsi ini diperkuat setelah saya mencoba beberapa kali menemukan akun nama-nama yang ada dalam tayangan serial tersebut, namun hanya menemukan satu yang juga masih saya nanti konfirmasinya.


Jika di SNS orang-orang bisa bercocok tanam tanpa memiliki lahan nyata tapi cukup memakai aplikasi permainan seperti farm ville yang hanya membutuhkan keterampilan menggunakan mouse, maka Venetia benar-benar memiliki tanah bertani beberapa meter persegi di seberang rumahnya yang ditanami bunga krisan, timun, sawi, tomat, dan beberapa tumbuhan lainnya. Jika di jejaring sosial internet orang-orang sibuk menyapa tetangganya di halaman maya tak kenal waktu, maka Venetia benar-benar mengunjungi tetangganya yang kadang sedang menanam padi di sawah atau seorang pembuat keramik penuh seni untuk ritual minum teh di distrik sebelah, Sasano--tak jauh dari kediamannya.


Ia pun tak jarang dikunjungi oleh tetangganya seperti perempuan tua Ohara yang membawakannya sepeluk perilla hijau dan merah yang ditanamnya sendiri dengan segala perhatian. Ia membagi resep jus perilla, menukar kisah perjalanan waktu, melengkapi teks dengan intonasi, dan tak sempat menggunakan aplikasi photoshop untuk menyembunyikan keriput-keriput yang ditarik oleh tawa gembiranya.


Atau seorang kawan lama dari Inggris, Uwe Walter--saya menemukan akun facebook Uwe pada 29 September lalu dan melihat wall-nya sama sekali tak riuh, hanya ada satu postingan foto dan sejarah teman-teman yang masuk dalam friendlist-nya. Uwe seorang musisi sakhuhachi yang menikahi seorang gadis Jepang dan memutuskan menjalin kehidupan di daerah pedalaman Kyoto -- lebih dulu sebelum Venetia dan Tadashi. Ia berusaha bertahan hidup dengan belajar dari penduduk lokal tentang segala detail metode bertani; menanam beras merah dan sayuran organik.


"Saya berhutang pada mereka semua. Mereka telah mengajariku semua hal ini," kata Uwe menunjuk beberapa warga desa yang menonton dirinya sedang menanam padi di sawahnya.


Di episode terakhir yang saya tonton, Venetia mengunjungi Yasuko Iwata. Yasuko-san telah bercerai dengan suaminya sekian tahun lampau. Hak asuh atas kedua anaknya diberikan kepadanya. Anak saudagar ini kemudian memutuskan tinggal di Ohara setelah tiba-tiba melihat masa depan pada sebidang tanah di mana kemudian ia menggelar ratusan pohon blueberry.


Awalnya, anak keduanya tidak setuju dengan putusan tersebut ditambah kekhawatiran dari ibunya yang tahu kalau Yasuko tak memiliki dasar pengetahuan bertani. Tapi Yasuko bersikap militan dengan pilihannya. Ia melahap kupasan-kupasan blueberry organik dari sejumlah ahli pertanian. Yasuko melakukan ritual membaca setiap hari sebelum anak-anaknya terjaga di pagi hari. Ketekunannya berhasil menjadikannya saudagar selai blueberry tanpa pengawet.


Venetia berhasil menjalin relasi dalam kehidupan tanpa harus tergantung dengan riuh rendah manusia di sns internet dengan mengaktivitasi sensitivitas terhadap lingkungan terdekatnya. Melatih daya adaptasinya dengan mempelajari bahasa Jepang agar dapat lebur dengan penduduk setempat dan melepas hasrat untuk mengasingkan diri dari interaksi masyarakat dalam radius terdekat. Hidup tetap berjalan bagi Venetia dan orang-orang di Ohara dengan ritme dan harmoni yang mereka rangkai sendiri.


Hal ini mengingatkan saya pada seorang teman yang tiba-tiba me-deactivate akun facebook-nya tahun lalu. Kejadian itu memunculkan komentar dari teman lain, "Dia antisosial sekarang." Komentar itu membuat saya lantas bertanya-tanya, apakah laku sosial kita semata dinilai dari interaksi kita dalam produk-produk jejaring sosial di internet?


Peran Produsen dengan Pendukung Keterampilan Hidup


Kreativitas dalam menyiasati keperluan hidup juga satu poin menarik dari serial ini. Terkadang orang begitu rela mengorbankan banyak waktunya untuk bekerja menambah pendapatan, namun tak pernah berpikir bagaimana mengurangi pengeluaran mereka. Cara hidup Venetia mengesankan perlunya meminimalisasi pengeluaran rumah tangga dengan cara memproduksi sendiri sebagian bahan yang dibutuhkan keluarganya. Ini seiring dengan tren 'consume locally, produce locally' yang sedang menjalar sana-sini di Jepang.


Krisan dalmatian yang ramai nan elok di ladangnya dipadu dengan bawang putih, cabe kering, dan bahan lainnya ternyata dapat menjadi insektisida ramah lingkungan untuk mengusir serangga yang sering hinggap di bawah dedaun mawarnya. Pupuk kompos pun ia produksi sendiri dengan menebang berbatang comfrey --sejenis tanaman eurasia-- di ladangnya dan menaruhnya ke dalam bak kayu buatan suaminya, mendiamkannya beberapa bulan.


Seorang tetangganya, Masashi Shiomi, suatu waktu menyambangi kebun Venetia dan membagi ilmu kepadanya untuk membuat pagar tanaman yang tak mudah goyah oleh angin, pula mengajarkan bagaimana menyulap yoghurt menjadi insektisida yang aman untuk sayuran. Berkat Masashi, Venetia tak memerlukan om Google untuk menyelamatkan situasi di ladangnya.


Kondisi sosial dan alam yang belum tercabik pun memungkinkan ia mengambil secara bebas dedaun dan buah dari tanaman liar di sekitar sungai Takano dekat rumahnya yang masih bersih. Seperti yang dilakukannya dalam seri berjudul 'Mother Earth's Summer Blessing'.


"Ah, these are enough, the rest are for the birds," ucap Venetia setelah memetik beberapa gooseberry dari pohonnya dan menyisakan lebih banyak untuk burung-burung pemakan buah.


Gooseberry dari bumi yang dibaginya bersama burung-burung lantas dipertemukan dengan gula dan rapsberry hasil tuaian sebelumnya di atas panci keramik. Dalam sekian adukan memutar searah jarum jam, mereka lalu berubah wujud menjadi selai manis nan segar. Selai itu kemudian dibawa ke sebuah rumah yang juga berfungsi sebagai restoran milik pasangan Atshusi dan Juri Sumioka.


Atshusi-san sesekali menggelar workshop pembuatan roti di halaman rumahnya. Pesertanya beberapa warga setempat. Di sisi dapur, Juri-san dengan segenap keterampilan masaknya, mengolah sayur musiman yang ia ambil dari kebun ibunya setiap pagi. Setiap hari ia mencoba pendekatan baru dalam aktivitasnya membuat 'homemade vegetable' untuk dapatkan hasil terbaik.


"I put my heart when cook them. I cook them with respect," ujar Juri sambil memasak sayuran yang telah diasinkan dan menyandingkannya dengan gurih rumput laut hijiki.


Taman di sekitar rumah Venetia juga dimanfaatkan untuk menanam tumbuhan seperti bunga viola yang ia jadikan salad, basil untuk pesto yang pas menemani pasta dan hidangan ikan, bunga lavender sebagai pewangi sabun, bunga geranium ros untuk classy sherbet, atau tanaman yang merambat ke atap dekat jendela kamarnya untuk bantal herbal di musim dingin. Tentu semuanya tak dapat ia panen jika ia tidak memiliki keterampilan memelihara tanaman.


"There's no magic in gardening but there's reward for the entire effort," kata Venetia sembari berusaha memindahkan salah satu tanaman di tamannya dengan sekop, dalam salah satu seri memori musim panasnya.


Waktu Luang untuk Aktivitas Jiwa


"Each person is the main character of their own life," demikian Venetia menulis dalam diary-nya di sebuah petang hangat. Sebagai pemeran utama dalam hidupnya, Venetia menyadari bahwa tak ada yang terjadi di dunia ini oleh kesempatan, melainkan pilihan.


Pilihan juga yang mengantar Venetia ke Ohara, membangun rumah dengan taman ideal. Baginya, taman bagai kanvas dan warna cat diperoleh dari warna-warni alami bunga-bunga yang tumbuh di dalamnya. Lukisan berubah-ubah ketika musim berganti hadir di taman Venetia. Untuk menjadi master seni lukis taman, Venetia mempelajari bagaimana memelihara tanaman yang dipilihnya dan setiap hari ia berurusan dengan mereka. Selebihnya ia gunakan untuk aktivitas yang telah terpapar sebelumnya.


Tak terikat dengan jam kantor, membuat Venetia dapat mengatur waktu untuk segala pilihan aktivitasnya, termasuk waktu untuk istirahat. Waktu istirahat biasa dimanfaatkan oleh Venetia untuk menulis diary. Diary Venetia berisi refleksi hidup kesehariannya. Jumlahnya sudah memenuhi dua rak di kamarnya. Isinya berupa foto, esai, puisi, juga sketsa rumahnya yang ia buat sendiri. Semuanya mengurai pilihan-pilihan Venetia dalam kehidupan.


Selain menulis diary, ia juga sering menikmati lukisan tamannya di tengah permainan cahaya dari tiap fase hari, menghayati rinai hujan, atau menyesap kesadaran* dari teh yang ditanamnya sendiri di halaman rumah.



Mataram, 02.Oktober.10


* Teh adalah simbol kesadaran dalam filsafat Timur